Kearifan Lokal



Adat Pernikahan si Bajul Ijo

Keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan salah satu kekayaan yang di miliki bangsa ini. Di tiap daerah selalu memiliki tema rias pengantin tradisional yang berbeda dan mempunyai ciri khas. Namun dalam perkembangan zaman, rias pengantin tradisional jarang diketahui oleh kaum muda saat ini. Kita perlu mempublikasikan kepada tiap masyarakat Indonesia pada umumnya agar budaya Indonesia tidak serta merta di klaim milik negara lain.

 
Saat ini kami akan membahas keragaman pengantin tradisional Indonesia. Pengantin klasik nusantara sangat unik, ternyata Surabaya juga memiliki Pengantin Tradisional Surabaya yang disebut Manten Pegon.

Gaya Pengantin Pegon hampir tidak terdengar bagi masyarakat umum. Gaungnya masih kalah jauh dengan gaya pengantin Solo, Jogya, Sunda bahkan Barat. Busana pengantinnya memang sedikit berbeda dari pengantin tradisional yang selama ini dikenal. Tidak heran jika kesan yang tertangkap, busana pengantin perempuannya mirip nonik-nonik Belanda. Manten pegon itu sendiri sebenarnya merupakan model pengantin khas Suroboyo, dimana tata rias dan busananya merupakan gabungan dari pengaruh beberapa etnik budaya. Akulturasi budaya tersebut meliputi budaya yang mencirikan Surabaya, Arab, China, India, Madura dan Belanda.

Sejarah Manten Pegon
Asal muasal kata Pegon sebenarnya kurang diketahui arti harfiahnya, namun menurut beberapa literatur sejarah yang mengatakan bahwa sebutan Pegon muncul dari masyarakat pesisir yang menyebut paduan unsur budaya seperti Surabaya, Madura, Cina dan Belanda.
Meski saat ini model pengantin Pegon sudah mengalami sejumlah modifikasi, namun ada sejumlah item yang tidak boleh diubah karena merupakan ciri khas utama dari model Manten Pegon. Ciri khas utama tersebut seperti hiasan kepala yang harus dipenuhi oleh bunga segar. Warna busananya yang dikenakan untuk manten pegon juga harus berwarna putih atau turunannya, seperti warna putih tulang atau kuning gading. Jenis busana terdiri dari blus atasan dan rok bawahan, modelnya bisa lipit atau tanpa lipit dan menggunakan bahan sutra Cina. Rok yang dikenakan untuk manten Pegon juga tidak boleh pendek, untuk gaunnya menggunakan model lengan panjang, tanpa manset dan berbentuk ramping.
Selain itu beberapa hal yang tidak boleh dimodifikasi sebenarnya mengandung filosofi tertentu seperti jamang atau hiasan kepala yang harus berjumlah dua belas, dengan tujuh buah sunduk pentul menghadap ke arah depan dan lima menghadap ke belakang yang mengandung arti filosofis bahwa manusia harus senantiasa mawas diri dan berhati-hati dalam bertindak. Harus melihat ke depan dan ke belakang, artinya berani menatap masa depan dengan tetap belajar dari masa lalu.

Busana Manten Pegon

  
 Kolaborasi dan akulturasi berbagai budaya dalam satu model busana dan dandanan pengantin ini tentu memberikan kesan yang unik. Jika dilihat sepintas, busana manten pegon untuk mempelai perempuan ini mirip dengan gaun yang biasa digunakan oleh noni-noni Belanda. Sedangkan pakaian pengantin prianya menggunakan busana yang kental aksen Timur Tengah lengkap dengan sorbannya yang khas. Tak heran jika busana pengantin pegon ini agak berbeda dari busana pengantin tradisional Jawa lainnya. Manten pegon ini adalah warisan nenek moyang yang mencerminkan bahwa kota kita ini sangat multikultural dan kita menghargai keragaman budaya tersebut dalam satu tampilan khas dalam bentuk busana pengantin, yang kita kenal dengan Manten Pegon ini.
Keunikan pengantin Pegon, merupakan simbol dari pengembangan budaya bangsa. Paduan budaya pada manten pegon ini dapat dilihat dari berbagai atribut, bahan dan model- model aksesoris yang dikenakan oleh pengantin pegon. Ciri khas budaya Arab dapat terlihat jelas dari pakaian pengantin pria yang mengenakan busana model jubah dan penutup kepala model sorban. Pada pengantin wanita, akulturasi budaya Jawa terlihat kental di bagian kostum bawahan yang mengenakan rok panjang. Sedangkan jamang atau mahkotanya juga mengambil dari budaya Jawa. Aksen Barat atau Eropa terlihat dari slayer atau selendang yang dikenakan oleh pengantin perempuan di sebelah kiri bajunya. Sarung tangan yang dikenakan pengantin perempuan makin menguatkan akses Barat tersebut. Pengantin perempuan dan laki-lakinya juga mengenakan sepatu pantofel dan menggunakan kaos kaki. Budaya Cina terlihat dari jenis kain yang digunakan untuk bahan baju yang terbuat dari sutra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Informasi